Minggu, 30 September 2012

Ada Apa Dengan Induk Sepakbola di Negeri ini?


Ya. Banyak, rakyat di negeri ini yang berharap dan bertanya tanya kapan Indonesia bisa lagi meraih trofi kejuaraan internasional dalam dunia sepakbola, yang dimana dalam kurun waktu 20 tahun Indonesia hanya menjadi spesialis runner-up. 


Kita mulai dari Organisasi Induk Sepakbola di Negeri ini
Dihampir setiap negara pasti mempunyai Organisasi induk sepakbola, untuk mengelola atau menaungi sepakbola di negeri itu sendiri.
Begitu juga dengan Indonesia yang mempunyai Organisasi Induk dalam Sepakbola yang diberi nama Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia sering disingkat (PSSI ).
PSSI inilah yang mengatur semua jadwal kompetisi lokal,internasional beserta pengaduan club club, yg dibawah naungan PSSI.


        Ya. Selain PSSI harus membuat kompetisi dengan membuat Liga yang profesional dan berkualitas, pembinaan pemain muda sejak dini dengan baik beserta fasilitas yg  memadai,PSSI juga harus secara profesional dalam pengelolaan managemennya sendiri.

Dan sudah menjadi rahasia umum bagaimana cara PSSI ini dalam pengelolanya tidak profesional, dari kompetisi Liga, pembinaan pemain muda, fasilitas dan managemen organisasi induk itu sendiri alhasil banyak protes dimana-mana.
 Kalau PSSI menyangkal atas tuduhan itu,bisa kita liat dari kompetisi yang sekarang sedang bergulir.
kalau kompetisi Liga sudah bagus dan berjalan dengan baik kenapa bisa muncul Liga yang bukan dibawah naungan PSSI  dan malah dikatakan ilegal?

Itu sudah menjadi bukti kalau kompetisi Liga yang dibuat PSSI ini bisa dikatakan gagal untuk menjadi sebuah liga yang profesional dan berkualitas.

Bisa jadi mungkin itu suatu bentuk ketidakpuasan sekelompok orang atas kinerja PSSI yang tidak becus mengurus sebuah kompetisi Liga atau yang lainnya.

      Pembinaan pemain muda sejak dini? Apa itu sudah dilakukan PSSI dengan baik, saya rasa belum. kenapa?
Ya. kalau pembinaan pemain muda sudah dilakukan dengan baik PSSI tidak usah repot repot menaturalisasi pemain dari negara lain.
         Soal fasilitas,terutama stadion apa sudah berjalan dengan baik?
Indonesia punya berapa banyak sih stadion yg layak untuk pertandingan Internasional ?

Mungkin tak lebih dari 5 stadion. bahkan kalau menggelar ajang internasional ada club yang meminjam stadion club  lain untuk menjalani laga internasionalnya,karena apa? karena tidak mempunyai stadion yang memenuhi standar internasional. Apa seperti ini sudah bisa dibilang sudah berjalan dengan baik? Entahlah.

Soal urusan finansial pastinya PSSI sudah mendapatkan anggaran dari pemerintah, seperti cabang olahraga yang lainnya. Yang dimana digunakan untuk menyediakan fasilitas yang dibutuhkan oleh para atlet guna menunjang pelatihan untuk menggapai sebuah prestasi.
       Bagaimana dengan managemen PSSI?

Bisa dikatakan sangat tidak memuaskan, Bagaimana tidak beberapa waktu lalu ada sebuah laga  uji coba yang dibatalkan karena tidak adanya anggaran untuk biaya tranportasi. bahkan ada yang memberitakan PSSI meninggalkan hutang disebuah hotel.
Apa segitu miskinnya PSSI?

Sekarang kalau induknya sepakbola saja seperti itu bagaimana sepakbola di Negeri ini bisa maju.

        Mari kita sedikit mencermati bagaimana cara Negara lain mengelola sepakbolanya dan terbukti mereka menuai kesuksesan.
Kenapa tidak kita meniru negara lain yg sudah terbukti sukses dengan cara profesional mereka mengelola sepakbolanya.

Sebagai contoh coba tengok, Inggris dengan Football Association (FA) Spayol dengan Real Federación Española de Fútbol (RFEF) dan  Italia dengan Federazinone Italiana Giuoco Calcio (FIGC) mereka sukses mengelola sepakbolanya dengan organisasi induknya itu dengan menghasilkan Liga - Liga  yang paling digemari bagi pecinta sepakbola diseluruh penjuru dunia karena itu semua mereka lakukan dengan cara profesional.
Semoga PSSI cepat berbenah dan membawa indonesia menuju prestasi yang membanggakan.



Salam

Kebangkitan La Vecchia Signora

                                                     

 
Juventus F.C., tim yang berdiri pada pertengahan tahun 1897, merupakan klub sepak bola tersukses di ranah Italia dengan pencapaian peraih gelar Scudetto terbanyak di liga Calcio Seri A Italia. Tapi beberapa tahun belakangan ini hampir tak terdengar gaungnya di kancah sepak bola internasional setelah tersangkut sebuah skandal.

Ya, tim yang bermarkas di Torino itu, sempat terpuruk lantaran terkena skandal Calciopoli. Akibat skandal pengaturan skor bersama dengan AC Milan, AS Roma, SS Lazio, dan ACF Fiorentina, si nyonya tua dari negeri pizza itu dikenai sanksi berat dari organisasi sepak bola tertinggi di Italia  (FICG), yang menyebabkannya harus turun kasta terdegradasi ke Seri B. Sebuah hukuman yang pertama dalam sejarah klub tersebut.

Pada musim 2005/2006 Manajer Umum Juventus, Luciano Moggi kala itu, tersangkut sebuah skandal pengaturan skor (Calciopoli) dan November 2011 dinyatakan terbukti bersalah, karena dianggap sebagai orang yang menyutradarai skandal tersebut.

Alhasil dari skandal tersebut, Juventus selain harus berkompetisi di Serie B, La vecchia signora (julukan Juventus) harus merelakan dua gelar Scudetto diambil dan gelar Scudetto musim 2006 dihibahkan kepada Internazioale Milan.

Walaupun Juventus hanya butuh satu musim untuk promosi ke Seri A lagi pada musim 2007-2008. Akan tetapi tim sekelas Juventus berlaga di Seri B merupakan pukulan telak bagi penggemarnya dan bagi punggawa Bianconeri sendiri. Dan kembalinya Juventus ke Seri A yang merupakan liga dengan kasta tertinggi di Italia itu disambut euforia oleh para Juventini.

Akan tetapi masa kelam Juve belum berakhir. Berawal dari mundurnya Didier Deschamp dari kursi kepelatihan Juve karena tidak ada kesepakatan mengenai gaji. Padahal Didier Deschamp pada waktu itu  telah berhasil membawa tim Zebra ini promosi ke Seri A. Otomatis Juventus harus mencari pelatih baru yang mumpuni untuk mengembalikan kejayaan Bianconeri.

Pelatih pun silih berganti untuk mengisi kursi kepelatihan tim yang pernah bermarkas di kota Turin tersebut. Dari pelatih kawakan seperti Claudio Ranieri, Alberto Zaccheroni, dan Luigi Del Neri yang akhirnya hanya mampu menuai kegagalan menakhodai Del Piero cs dan berakhir pemecatan, hingga pelatih debutan seperti Ciro Ferrara yang harus gigit jari karena tidak mampu membawa juventus bersaing dengan pesaingannya.

Dari isu beberapa pelatih yang digadang-gadang, akhirnya Juventus menemukan sosok pelatih yang dianggap mampu mengembalikan masa kejayaan tim. Tak lain merupakan mantan punggawa Juventus sendiri sekaligus mantan kapten tim, yaitu Antonio Conte, yang merupakan salah satu pilar Juventus di era 1990-an.

Ya, Antonio Conte sendiri pernah bergabung dengan Juventus sebagai pemain pada musim 1993 sampai musim 2004 sebelum memutuskan untuk gantung sepatu di tahun yang sama. Banyak kalangan yang meragukan kapasitas Conte sebagai pelatih, apalagi menukangi Juventus. Tapi Conte tak bergeming dengan persepsi orang padanya, yang terpenting bagi Conte hanya membuktikan hasilnya diatas lapangan hijau tanpa menghiraukan mereka yang meragukan kapasitasnya sebagai pelatih.

Alhasil sungguh luar biasa, sampai pekan ke-15 di Seri A Italia, Conte berhasil membawa Juventus memimpin klasemen sementara, dan yang paling fantastik dari kinerja Conte adalah membawa Bianconeri menjadi satu-satunya tim yang belum terkalahkan, dengan sembilan kali kemenangan dan sisanya berakhir seri. Mungkin inilah salah satu cara Conte menjawab mereka yang meragukan kapasitasnya sebagai pelatih.

Dengan materi pemain yang mumpuni mulai dari penjaga gawang yang syarat berpengalaman Gianluigi Buffon, benteng pertahanan yang kokoh dikomandoi Giorgio Chiellini, lapangan tengah dengan seniman bola sekaliber Andrea Pirlo, ditopang dengan gelandang muda yang potensial Claudio Marchisio, dan sang penggedor jala lawan dipercayakan duet Mirco Vucinic dan Alessandro Matri.

Patut kita tunggu sampai mana kiprah seorang Antonio Conte menahkodai Juventus dimusim 2011/2012, Apakah mampu mengembalikan kejayaan bagi tim yang berjuluk La Vecchia Signora tersebut? Layak dinanti khususnya bagi para Juventini.